Kamis, 03 September 2009

Jalan-Jalan Bakti

Om Swastiastu

Wacana Maha Guru Sri Nara Dirijin 20 April 2008

Di asram Klungkung

Asram Bhama Santhi

Jalan-Jalan Bakti

“Kebenaran jiwamu telah menyentuh kaki suci ku,”

“Kesungguhan baktimu telah engkau wujudkan dengan kehadiranmu memuja tuhan,”

“Kebenaran ucapanmu telah engkau wujudkan dalam tindakan kehidupanmu,”

Berarti dirimu semua sudah mengikuti garis perguruan aku datang membukakan sungai yang lebar, dengan air yang tenang untuk engkau lalaui menuju samudra ilahi. Barang siapa yang bisa merasakan kebaghagiaan di dalam aliran sungai itu, itu adalah pemuja yang sungguh-sungguh meyakini guru dan meyakini tuhan.

Bila para bakti semuanya masuk di dalam aliran sungai ilahi ini masih merasakan panas dan dingin, masih mengejar samudra dengan keinginan dan melawan arus air itu sendiri, itu adalah kekeliruan besar.

Sungai yang besar akan mampu membawa benda apapun ke samudra. Bagai mana di dalam aliran sungai yang besar ini dirimu bisa tenang, bisa menikmati kebahagiaan dan pada akhirnya engkau akan sampai pada samudra ilahi. Tetapi bila engkau melawannya dengan nafsu mu, dan keserakahanmu untuk cepat-cepat sampai, berarti dirimu menghabiskan energi. Karena energimu tidak cukup menggapai kaki tuhan, tidak cukup.

Kepasrahan dan keiklasan ini penting, pengorbanan lebih penting. Tanpa pengorbanan dirimu tidak akan pernah merasakan baktimu, apapun yang engkau persembahkan kepada tuhan, sesungguhnya itu adalah tindakan untuk melepaskan diri dari ikatan. Itulah pentingnya tuhan turun kedunia mengajarkan bagai mana caranya untuk melakukan yadnya. Oleh sebab itu di mana tempat-tempat suci, tempat orang suci memuja tuhan, para Resi, para Begawan di masa lalu hingga kini beliau selalu menyalakan api keabadian didalam dirinya dan di luar dirinya.

Api keabadian alam semesta adalah Dewa Surya, Matahari itu sendiri. Di dunia ini bagi orang suci, api keabadian itu adalah Homayadnya atau Homakunda. Di dalam dirimu api keabadian itu adalah ibu sakti kundalini, energinya Parama Atman. Ini yang harus engkau pahami baik-baik. Kalau di alam besar engkau memuja tuhan, engkau memuja Dewa Surya. Segala persembahan engkau persembahkan ke pada Dewa Surya. Tetapi tuhan yang lebih dekat engkau persembahkan segala persembahanmu, material, doa, mantram kepada Homayadnya. Tetapi kebahagian yang datang dari luar, makanan, minuman, hasil pandangan, dan pendengaran itu engkau persembahkan kepada api didalam dirimu sendiri, untuk menuju kebahagiaan jiwatman. Kemanunggalan inilah di sebut dengan bakti yang universal.

Pahamilah matahari yang selalu melaksanakan tugasnya tanpa henti, walaupun mendung sekalipun. Pahamilah Homakunda yang selalu melakukan kewajibanya, apapun dipersembahkan dia akan membakar habis untuk dipersembahkan kepada yang maha kuasa lewat asap yang dia timbulkan. Begitu juga kepada dirimu, appun yang datang kepada dirimu suka, dan duka yang merupakan lingkaran kehidupan di dunia ini, engkau persembahkan, bakarlah semua itu sebagai persembahanmu kepada sang jiwa. Tumbuhkanlah kebahagiaan di dalam diri masing-masing dengan melakukan pengorbana yang tulus dan iklas.

Memahami keberadaan tentang kejiwaan ini amatlah penting para bakti sekalian. Bila dirimu tidak memahami dengan hakekat kejiwaan, maka dirimu akan menjadi terombang ambing oleh lautan ilahi yang bekerja tanpa henti. Orang yang memasrahkan diri kepada tuhan, dia ibaratkan seperti ikan di samudra. Betapa gelombang besarpun yang ada disamudra itu, dia tidak akan perduli, tidak akan pernah pusing, dan tidak pernah akan mabuk olehnya. Itulah tanda tanda kepasrahan yang tinggi para bakti sekalian.

Tetapi kalau kita baru saja kena suatu masalah yang sesungguhnya guru datang kepadamu, untuk menguji ke tabahan, ke iklasan dan kesungguhanmu sebahgai pemuja, keluhanmu lebih besar dari pada rasa baktimu. Engkau akan merasa begitu ringan, kakimu melangkah menuju tempat suci. Bila masalah itu datang kepadamu, engkau ingin begitu cepat-cepat menghadap guru mu, bila masalah yang begitu besar datang kepadamu. Tetapi kenapa engkau tidak pernah datang untuk memohon pengetahuan kepada gurumu, dan kepada tuhan. Sedangkan semua masalah itu akan diatasi oleh pengetahuan yang engkau dapatkan.

Pengetahuanlah yang membebaskan dirimu dari segala bentuk penderitaan di dunia ini, pengetahuaan. Kejarlah pengetahuaan itu, guru memberikan pengetahuan dalam segala bentuk, dalam segala hal. Tidak hanya pengetahuan itu aku berikan lewat ucapan, wejangan, dan sabdaku saja. Tetapi aku memberikan kerja, Karma Yoga kepadamu. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang Karmin. Orang-orang melakukan dan mempersembahkan dan berkorban untuk kerja. Dirinya sendiri sebagai persembahan kepada tuhan. Kerja untuk tuhan, kerja untuk semua umat manusia kepada tuhan, ini juga pengorbanan yang besar. Sehingga di akan mencapai puncak ke ilahianya dengan gelar Karmin. Karmin Yoga dia menghubungkan diri lewat kerja.

Tetapi bagi orang yang mampu mengabdikan pengetahuanya bagi umat manusia untuk kesejahteraan isi alam semesta ini dia akan menjadi Janani, Janana Yoga. Lewat pengetahuan dia mendekatkan diri dengan tuhan, Tetapi tanpa pengetahuan, dia melakukan sikap dan menunjukan rasa bakti kepada tuhan, menunjukan rasa bakti kepada guru, dan sesamanya, dengan penuh perasaan Santi, dia ini adalah bakti yang sungguh-sungguh. Karena dia menunjukan suatu pelayanan yang murni, dengan ketulusan jiwanya. Di manapun dia berada itu adalah pintu-pintu untuk masuk menuju sungai yang besar, sungai ilahi, menuju samudra ilahi. Tanpa lewat pintu-pintu itu engkau tidak akan mungkin bisa menggapai kaki tuhan. Tidak akan mungkin. Karmin, Janana Yoga, Raja Yoga dengan melaksanakan tapa berate, melaksanakan upawasa, dan melaksanakan pengendalian indria, dengan sungguh-sungguh. Raja Yoga ini juga merupakan salah satu pintu menuju itu.

Bila dirimu telah memahami dan telah mendapatkan suatu titik kesadaran di dalam dirimu, bahwa makanan yang tidak baik, makanan yang baik. Janganlah engkau pilih yang tidak baik, engkau akan sirnah oleh kekuatan itu. Kesucianmu akan tenggelam, tetapi nafsumu akan merajalela meliputi dirimu. Engkau akan merasa mendapatkan segala-galanya di dunia ini atas hasil karya mu. Sehingga engkau ingin hidup untuk kesenangan dari pada hasil karya itu, itu keliru besar para bakti sekalian. Engkau kerja di dunia ini bukanlah untuk memenuhi nafsumu, tetapi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup mu mencapai suatu kebebasan.

Orang-orang bijaksana di dalam kitab suci mengatakan “kejarlah materi dengan seratus tangan mu, dan tolonglah umat manusia dengan seribu tanganmu” ini memberikan suatu arti kepada kita. Kita tidak boleh boros di dalam hidup, kita tidak boleh menghambur-hamburkan harta yang kita dapatkan dari tuhan, itu bukan milik kita para bakti sekaliaan. Semua yang ada di dunia ini bukanlah milikmu, semua yang ada di dunia ini, semuanya adalah milik tuhan. Di ijinkan untuk dirimu mempergunakan di dalam kebutuhan hidup ini untuk mencapainya. Kalau begitu banyaknya, hakekat isi alam semesta ini yang ada di sekitar hidupmu, engkau tidak bisa mempergunakannya mencari tuhan ini adalah kekeliruan besar para bakti sekalian.

Andaikata alam semesta ini tidak ada apa apanya, apa yang engkau pergunakan untuk mencari tuhan. Sedangkan di sini semua terpenuhi kebutuhan untuk serana bakti, untuk sarana pengorbanan, untuk sarana segala-galanya kegiatan itu sudah disediakan di alam semesta ini. Semuanya alam semesta itu tersenyum untuk melayani dan membantu dirimu mencari tuhan. Seperti apa yang terjadi pada hari, ini tumbuh-tumbuhan, binatang, semuanya mereka tulus dan siap membantu dirimu memuja tuhan dan mencari tuhan. Tetapi orang-orang semuanya tidak menyadari hal itu. Kalau aku ibaratka seperti orang naik kereta, dirimu sudah ada di dalam kereta, kenapa semua beban yang engkau bawa, engkau junjung dan kau junjung, alangkah kelirunya dirimu, letakkanlah semua beban itu dan nikmatilah perjalanan di dalam kereta itu. Tujuan itu akan tercapai dengan pikiran, kesehatan, dan ketenanganmu. Akan engkau dapatkan.

Dijaman Kali Yuga yang telah mendekati puncak Kali Yuga ini berhati-hatilah kekuatan Kali Yuga tidak akan memilih orang, tidak memilih pangkat, tidak memilih profesi, tidak memilih kaya dan miskin, yang dia takuti adalah pemuja tuhan yang baik. Walaupun dia berpangkat tetapi dia tidak memuja tuhan yang baik. Dia akan selalu di jejali dengan kobohongan, kebohongan, dan kebohongan. Demikian juga akan selalu tumbuh di dalam pikiranya kebencian, kebencian, dan kebencian. Daunya adalah iri hati kepada sesamanya, buahnya adalah munculnya keserakahan yang berlebihan. Ingatlah para bakti sekalian

“engkau telah menemukan jalan kesucian pertahankanlah itu, “

“engkau telah bisa memilih makan tanpa daging,pertahankanlah itu”

“engkau telah bisa memilih makan tanpa daging kaki empat,pertahankanlah itu”

“engkau telah memilih tidak makan nasi, tidak makan sayur, pertahankanlah it”

Kebaikan yang pernah engkau lakukan tolonglah di pertahankan. Jangan di hancurkan bangunan yang telah tersusun rapi pada dirimu.

“Seperti orang membuat candi engkau telah menaruh pondasi yang begitu kuat,…!

“Setelah bangunan itu berdiri setengah kenapa engkau memasang bata yang begitu rapuh,..?

“Bangunan itu akan jebol semuanya…..!

“Engkau akan mengulang kembali melakukan bakti…!

“Bertahun-tahun engkau telah mampu mencapai suatu tangga, dua tiga meter tangga ilahi itu telah engkau laluwi, sekarang berpeganglah dengan baik dan berhati-hatilah..!

“Lalu kenapa engkau turun lagi ingin menginjak bumi ini…! yang penuh dengan masalah kebencian, yang penuh dengan penderitaan bagi yang tidak memiliki suatu pengetahuan.

Bila engaku tidak mampu maju tolong bertahanlah, bertahanlah. Tetapi bila engkau ingin maju lakukanlah, dengan hati-hati dan dalam garis suatu perguruan itu penting para bakti sekalian. Engkau bisa datang pada hari ini dengan panggilan jiwamu itu adalah kebenaran. Tetapi bagi orang yang ingin datang kesini, dia tidak datang berarti di menutupi kebenaran yang sejati. Masih dikalakan oleh kekuatan Tamasik di dalam dirinya sendiri. Ingatlah apabila di dalam dirimu muncul niat untuk melakukan kebaktian, apapun jenisnya jangan engkau tunda. Tetapi bila di dalam dirimu muncul niat untuk menikmati makanan yang di larang oleh agama lupakanlah, lupakanlah. Ingatkanlah semua larangan itu dan kerjakanlah tugasmu dengan baik.

Guru amat sedih sekali bila melihat pemujanya tidak pada tempatnya, disaat guru keliling menemui semua tempat isi alam semesta ini dan menemukan pemuja di tempat yang tidak sesuai dengan ajaran yang diajarkannya. Guru bukanlah marah, tetapi guru bersedih menyaksikannya, guru bersedih menyaksikannya. Tetapi disaat guru berkeliling melihat pemujanya begitu kusuk memuja tuhan, begitu tulus dan iklas dengan kesederhanaanya, guru merasa bahagai. Maka alam semesta ini pun akan sejahtera. Dengan suatu tindakan yang tidak bisa membahagiakan gurumu maka tindakanmu itu akan membuat dunia ini menjadi tidak sejahtera. Berhati-hatilah para bakta sekalian.

Sekali lagi aku jelaskan tentang rahasia hakekat guru. Guru dari dulu hingga kini merupakan perwujudan alam semesta. Jangan engkau lupa bagai mana Krisna itu yang selalu di pangkuan Yasoda.

“Yasoda mengatakan bagai mana isi alam semesta ini..?

“Oh ibu…! isi alam semesta ini ada dalam pangkuan mu.

Bagai mana sri ganesha itu mengelilingi bumi dengan mengelilingi siwa parwati. Hakekat guru dan hakekat alam semesta sesungguhnya adalah sama para bakti sekalian.

“Bila engkau menghancurkan alam semesta, sama dengan engkau menghancurkan gurumu sendiri.

“Bila engkau melakukan suatu tindakan yang melanggar perintah guru sama dengan engkau menghancurkan alam semesta ini.

Kini aku tegaskan pada hari ini kepada para bakti sekalian. Sebelum hukum ilahiku yang tegas akan datang kealam semesta ini, untuk menegakkan dan mengoraksi setiap umat manusia yang bersungguh sungguh di selamatkan di jaman Kali Yuga ini. Berhati-hatilah tidak ada batasan guru itu jauh, dan tidak ada batasan guru itu dekat, dan tidak ada sesuatu yang mampu engkau sembunyikan dengan gurumu sendiri.

Bila engkau masih merasakan guru itu jauh, bila engkau masih merasakan guru itu tidak mengetahui apa-apa, engkau tidak akan mendapatkan pengetahuan tentang kebebasan, karena engkau menganggap gurumu adalah bodoh. Jangan nodai alam semesta ini, dan jangan nodai dirimu sendiri, karena dirimu ada di dalam gurumu sendiri, dan di dalam dirimu sendiri ada gurumu. Bila engkau melakukan suatu perbuatan yang menodai dirimu sendiri khususnya para bakti berarti dia menodai guru yang ada didalam dirinya sendiri. Ini ketegasan yang aku sampaikan kepada mu.

Para bakti sekalian kesungguhanmu telah menjadikan diriku bahagia pada hari ini, semoga alam semesta ini menjadi bahagia. Engkau telah menyelamatkanya, walaupun engkau merasakan tindakanmu kecil, tapi besar sekali artinya.

“Aku berikan contoh;

“Bila pada saat ini engkau mengetuk alam semesta ini, di suatu sisi aka ada sesuatu yang roboh.

“Bila engkau mengetuk alam semesta ini dengan emosimu di suatu sisi ada kehancuran. Berhati-hatilah. Tindakan pemuja tuhan itu tidak ada yang tidak di perhitungkan semuanya di perhitungkan.

Terima kasi para bakti sekalian,

Kuatkanlah imanmu di jaman Kali Yuga ini kuatkanlah batinmu dan baktimu agar dirimu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang sejati.

Om Nama Siwa Ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.